Monday, February 9, 2009
Menunggu Sang Waktu
Di sebuah tebing yang curam, berdiri seorang ksatria. Ksatria ini memandang jauh ke sebuah hamparan tanah luas penuh dengan rumput ilalang. Pandangan matanya tampak kosong, tapi tidak dengan pikirannya. Dia berdiri seakan-akan sedang menunggu sesuatu atau seseorang.
Namun, keadaan fisik yang di alaminya tidaklah terlihat baik. Di sekujur tubuhnya penuh dengan luka sabetan sebuah pedang atau keris. Darah segar masih sedikit terlihat, walaupun sudah mulai mengering. Di tangan kanannya, masih menggenggam sebuah keris.Pakaiannya sedikit rusak. Namun, kalau di lihat secara kasat mata, ksatria ini sepertinya masih sanggup melanjutkan pertarungan berikutnya.
Ksatria ini telah melakukan pertarungan demi pertarungan yang akhirnya mengantarkannya ke tempat dimana dia sekarang berdiri. Dan selama perjalanannya, banyak yang menghadangnya. Bahkan ada yang tinggal nama. Tidak ada yang tahu apa tujuannya datang ke tempat ini. Seandainya ada orang yang bertanya apa maksudnya atau untuk apa orang ini datang ke tempat ini, tidak seorang pun yang tahu. Bahkan dirinya pun tidak tahu, kenapa dia bisa sampai di tempat ini.
Dia hanya tahu satu hal, di tempat ini dia akan menemukan jawaban yang dia cari selama ini. Dan akhirnya, ksatria ini hanya berdiri mematung sambil menunggu datangnya sang waktu........entah sampai kapan. Besok, lusa, 2 minggu yang akan datang, 1 tahun yang akan datang, tidak ada yang tahu. Yang dilakukannya hanya menunggu dan menemukan jawabannya. Sampai sang waktu hadir menunjukkan jawabannya.
Label:
sebuah cerita
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment